Renungan Ramadhan
Label: ramadhan, renungan
Mereka tidak tau kapan waktu tiba bisa mengatasi rasa lapar, sementara kita yang puasa mengerti kapan tiba saat berbuka
Saking meriahnya sambutan terhadap bulan ini, maka geliatnya terasa bahkan seminggu sebelum puasa berjalan. Mulai dari stasiun TV yang beralih acara agak islami-islami dikit, masjid-masjid yang dibenahi agar tampak indah dan sedap dipandang, karena maklum pada bulan ini masjid dipastikan bakalan penuh, meskipun cuma dalam hitungan beberapa minggu saja, pedagang di pasar-pasar yang kebanjiran pembeli, pasar juadah yang bermunculan, sampai percetakan yang kebanjiran orderan spanduk dan baliho ucapan selamat berpuasa, jadwal imsakiyah dan sebagainya, apalagi di daerah yang kebetulan bakal melaksanakan pemilihan kepala daerah pasca puasa nanti.
Karena saya bukan ustadz dan ahli agama, maka dalam tulisan ini saya tidak mengomentari macam-macam tentang hikmah puasa ramadhan, apalagi tentang banyaknya keutamaan berpuasa, manfaat berpuasa dan sebagainya, tapi betul-betul sekedar menulis tentang fenomena sosial yang tampak saja jika ramadhan tiba.
Semua tampak serba religius ketika ramadhan tiba, karena memang di bulan ini selain ibadah puasa, maka selalu beriringan dengan intensitas peningkatan ibadah-ibadah yang lain pula, tentunya dengan maksud dan tujuan untuk meningkatkan ketaqwaan.
Coba kita renungkan makna sesungguhnya kita melakukan puasa. Maka di bulan ini dapat dipastikan angka orang yang membayar zakat cukup tinggi, orang yang berubah dermawan kemudian beramal memberi makan kaum fakir-miskin juga tinggi, acara pengajian tadarusan bersama juga naik drastis. Karena seperti kata ustadz bahwa fungsi puasa juga bukan sekedar menahan haus dan lapar, sebab dengan haus dan lapar itulah seharusnya mengingatkan kaum yang jarang merasakan haus dan lapar untuk ingat kepada kaum yang sering merasakan haus dan lapar.
Sederhananya, bulan ini juga merupakan ajang bagi manusia-manusia yang kebetulan ‘berpunya’ agar tidak ‘pelit’ harta buat berbagi dan mempunyai rasa kepedulian terhadap saudaranya yang miskin. Makanya, seringkali dalam tiap ceramah agama yang sering saya dengar, selalu terungkap hendaknya puasa boleh jadi menyadarkan orang-orang kaya agar tersentuh nuraninya, yaaah…untuk lebih giat beramal-lah, sekali-sekali belajar berzakat, bershadaqah dan berinfaq terlebih-lebih kepada kaum fakir-miskin dan anak-anak yatim yang berada di sekelilingnya.
Sebagai bulan penempaan diri yang bukan saja mengajarkan ibadah ritual tapi juga ibadah sosial, maka seharusnya di bulan ini jangan dijadikan ajang pamer kemewahan dan parade kesombongan. Kenapa saya katakan demikian, karena terkadang saking salah kaprahnya menyambut dan menjalani puasa ramadhan sampai menyambut idul fitri nanti, maka ada sebagian manusia-manusia “berada” tersebut, malah melakukan agenda pamer kemewahan dan parade kesombongan itu.
Seperti mengunjungi dengan niatan menyantuni orang fakir-miskin dan anak yatim, tapi dengan berpakaian yang bermewah-mewahan dan berlebihan, kalau perlu semua perhiasan digunakan, semua pakaian necis dipakai, trus makan sahur dan berbuka dengan mubazir, nanti menjelang idul fitri pesta belanja dan sebagainya.
Selanjutnya kegiatan-kegiatan penyantunan itu cuma sekadar mempertontonkan simbol-simbol relijiusitas agar semata-mata dibilang “dermawan” di mata manusia, yaah seperti jika membantu orang miskin dan anak yatim piatu mesti diliput televisi dan media massa, seakan-akan udah paling shaleh sendiri. Banyak fenomena seperti ini yang tampak berjubel selama ramadhan, trus pasca ramadhan, semua itu lenyap tak berbekas seperti melukis di atas air.
Inilah beda antara puasa “sebagian kaum kaya borjuis” dengan puasa kaum miskin, kalau puasa “sebagian kaum kaya borjuis,” biasanya bekas dan betahnya cuma sebulan, trus selama sebulan itu dijadikan ajang unjuk gigi pamer segala kekayaan itu. Artinya, ternyata puasa itu sudah berubah dan turun status menjadi simbol kemapanan ekonomi belaka. Haus dan laparnya tak menyisakan pembelajaran apa-apa selain haus dan lapar selama sebulan itu.

Kemudian kalau kaum miskin, pada ramadhan ini, terkadang belum tentu juga dapat berpuasa full, karena biasanya mereka harus membanting tenaga jauh lebih keras dan mungkin menganggap dari ramadhan ke ramadhan adalah sesuatu yang biasa saja dan sudah sering mereka hadapi, karena yaa…haus dan laparnya hampir sama saja tiap hari, yang beda mungkin banyaknya orang memberi sedekah, itu saja! Dan…pasca idul fitri nanti yaaa haus dan lapaaar lagi, bahkan mungkin lebih parah haus dan laparnya!
Meskipun sudah berkali-kali diungkapkan, bahwa secara makna berpuasa mestinya menyadarkan kita akan rasa haus dan lapar yang justru tiap hari dialami kalangan fakir miskin, dan sebenarnya pada bulan ini adalah ajang melatih diri untuk menjalani apa yang sama dirasakan kaum fakir-miskin yang serba kekurangan, serta untuk mengembangkan sikap empati dan simpati terhadap derita rakyat miskin. Tapi faktanya tidak demikian memang.
So…alangkah menjadi lebih menarik seandainya semua elemen masyarakat termasuk pemerintah mendiskusikan bagaimana caranya mengkampanyekan agar momentum ramadhan dapat menjadi starting upaya memberdayakan kaum fakir-miskin yang termarjinalkan.
Karena kaum fakir-miskin hadir bukan semata-mata karena takdir, tapi karena ternyata kekuasaan, kebijakan dan kekuasaan modal yang justru semakin memiskinkan, melanggengkan kemiskinan, tidak memberikan akses yang membebaskan dan tidak memihak kepada kaum miskin.
Untuk menghayati penderitaan mereka itulah kita puasa. Bagaimana kerontangnya kerongkongan tanpa disentuh air saat mendorong gerobak sampah pemulung di panas terik. Bagaimana lemahnya tubuh disaat
tak dapat sepotong makanan pun sepanjang hari. Dan bisakah hati tidak megeluh akan semua itu? Bisakah mulut tidak rewel dan cerewet menjalani semua itu? Bagaimana jika hal itu berlangsung lama?
Bagaimana jika waktu berbuka itu tidak ada? Yang biasanya sudah ditunggu hidangan makanan indah bak buah-buahan dalam bayangan sorga? Bagaimana jika ibadah puasa itu tanpa sahur? Yang tujuannya jelas-jelas
dipersiapkan sebagai energi cadangan untuk menjalani puasa di siang hari? Lalu saat berbuka akhirnya juga dibayar sekian kali lipat? Lalu kenapa saya, anda dan kita semua, terutama para pengkotbah begitu gencarnya menyeru puasa itu wajib bagi siapa saja? Termasuk mereka yang miskin papa? Ya itu kan perintah Tuhan.
Perintah Tuhan? Apakah Tuhan buta realitas? Oh … kejam nian Tuhan jika demikian.
Jangan-jangan Tuhan mencibirkan manusia yang mengaku beriman dengan berkacak pinggang dalam kotbah dan ceramah suci mulia. Tapi para gelandangan tetap kelaparan dan tidur dalam tumpukan sampah. Sementara kita kaum beriman menikmati apel, juice saat berbuka puasa. Yang kita yakini sebagai kemenangan menahan nafsu di siang hari. Bisakah kita merasa malu? Malu bahwa puasa kita hanya omong kosong? Puasa kita hanya semacam festival menunda selera pacu yang lebih ganas menjelang waktu berbuka? Puasa manja yang tidak pernah kurang makan? Puasa yang sudah dipersiapkan dengan makanan sahur agar tidak tumbang di siang hari? Puasa yang kita elu-elukan secara kroyokan? Puasa yang ibarat mobil ambulance lewat? Yang memaksa semua mobil lain minggir karena mau lewat? Puasa yang memaksa dunia harus mengakui bahwa kita lagi puasa sambil berteriak: “Jangan ganggu saya, saya lagi puasa. Jangan makan dekat saya!”
Apakah artinya puasa Ramadhan bagi kaum miskin papa yang sudah selalu puasa dalam banyak hal? Tidak seperti kita orang beriman omong kosong yang cuma menahan haus lapar? Yang dilakukan cuma karena takut ancaman Tuhan dan mengumbar pahala? Dan lebih-lebih karena takut ancaman sosial karena dinilai sebagai orang yang tidak bermoral dan tidak beriman?
Tips agar kuat berpuasa di bulan Ramadhan
Label: agar, berpuasa, bulan, di, kuat, ramadhan, tips[Puasa sebentar lagi] Tips agar kuat berpuasa di bulan Ramadhan – Postingan kali ini dari akan membahas info terbaru tentang [Puasa sebentar lagi] Tips agar kuat berpuasa di bulan Ramadhan semoga informasi tersebut bisa menambah pengetahuan sobat semua, para pembaca setia blog ini
PUASA SEBENTAR LAGI
Suatufakta.com -Puasa tinggal menghitung hari nih gan
bagaimana persiapan agan dalam menghadapi bulan ramadhan tahun ini?
Dari pada siapin yang enggak-enggak mending agan siapin ilmu tentang bagaimana agar kita kuat berpuasa di bulan Ramadhan menurut Islam
Pertama:
1. Mengakhirkan Makan Sahur (sebelum Fajar)
Rasulullah saw. bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu terdapat keberkahan.” (Shahih Muslim No.1835)
Hadis lain riwayat Zaid bin Tsabit ra., ia berkata: Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah saw. Kemudian kami melaksanakan salat. Kemudian saya bertanya: Berapa lamakah waktu antara keduanya (antara makan sahur dengan salat)? Rasulullah saw. menjawab: Selama bacaan lima puluh ayat. (Shahih Muslim No.1837)
Dari hadits ini kita dapat ambil kesimpulan bahwa Makan Sahur adalah Sunnah untuk ditunaikan, dan lebih sunnah lagi jika waktunya di akhirkan. Beberapa saudara kita ada yang makan sahur pada jam 2 atau jam 3 dinihari, karena waktunya jauh dari fajar, mereka biasanya tidur lagi setelah makan sahur. Karena tidur itulah banyak yang tidak dapat melaksanakan Jamaah Shubuh, disamping juga tidak mendapatkan pahala dari mengakhirkan waktu sahur. Naudzubillah…
Untuk itu akhirkanlah waktu makan sahur. Dengan mengakhirkan waktu makan sahur, Insya Allah kita dapat lebih kuat untuk menjalankan Ibadah Puasa. Kalau berdasarkan hadits tadi waktunya kira-kira bacaan 50 ayat (antara makan sahur dengan waktu shubuh). Bisa juga kita perkirakan sekitar 15 menit sebelum imsak. Silahkan bandingkan, mana yang lebih kuat; orang yang makan sahur jam 2 atau yang makan sahurnya diakhirkan? Tentu saja jawabannya; lebih kuat yang makan sahurnya diakhirkan.
kedua:
2. Menyegerakan Berbuka (bila tiba waktunya)
Dari Sahal Ibnu Sa’ad ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang akan tetap dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaq Alaihi).
Hadits lain Menurut riwayat Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Hamba-hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah mereka yang paling menyegerakan berbuka.”
Menyegerakan berbuka merupakan kemudahan yang Allah berikan, dengan menyegerakan berbuka jika waktunya telah tiba, kita bisa lebih cepat untuk memulihkan tenaga kita kembali, dan lebih cepat untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga. Jika sudah waktu magrib, maka segeralah berbuka, jangan nunggu-nunggu karena dengan memperpanjang puasa kita tidak akan menambah pahala, melainkan akan menambah rasa lapar dan dahaga.
ketiga:

3. Makanlah Kurma dan Madu Saat Sahur dan Berbuka
Agar kuat berpuasa, coba makan 3 butir kurma dan 2 sendok makan madu setelah makan sahur (setelah makan nasi dan lauk tentunya). Begitu pula ketika berbuka puasa. Minum juga air secukupnya (minimal 3 gelas) agar kita tidak dehidrasi.
Dari Sulaiman Ibnu Amir Al-Dlobby bahwa Nabi SAW bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu berbuka, hendaknya ia berbuka dengan kurma, jika tidak mendapatkannya, hendaknya ia berbuka dengan air, karena air itu suci.” (Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut
Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim).
Kurma dan Madu kandungan kalorinya cukup tinggi dan bisa memberi energi yang cukup untuk beraktifitas. Selain itu makanan 4 sehat dan 5 sempurna seperti buah-buahan juga jangan dilupakan
keempat:
4. Tetap Berolahraga dan tidak berlebihan
Untuk menjaga kondisi badan, tetaplah berolahraga meski intensitasnya agak dikurangi. Jalan kaki atau lari pagi selama 30 menit tidak masalah. Meski berkeringat, lelah, dan haus, setelah mandi pagi atau mandi sore insya Allah badan kita akan segar kembali.
Selain itu, Lakukanlah shalat Tarawih, karena selain merupakan sunnah Nabi SAW, Tarawih juga memberi ketenangan hati dan juga kesehatan badan:
Sebuah hadits menyebutkan: “Barangsiapa berpuasa dan shalat malam dengan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Ahmad)
kelima:
5. Niat Puasa Mengharap Ridha Allah SWT
Agar kita kuat berpuasa, kuatkan pula niatnya hanya untuk dan karena Allah semata. Jangan Niat puasa karena disuruh oleh Ustadz, disuruh orang tua, atau motivasi lain yang tidak disarankan, karena kalau kita salah niat, kita tidak akan mendapatkan pahala. Niat ini selain membuat kita lebih kuat, juga merupakan syarat agar puasa kita diterima Allah.
keenam:
6. Mengurangi dari melakukan pekerjaan berat
Agar kuat dalam berpuasa dan tidak batal di tengah jalan, kurangi aktifitas yang menguras tenaga, misalkan main bola disiang hari, berlebihan dalam bekerja, atau melakukan pekerjaan lain yang melelahkan. Lakukanlah pekerjaan yang ringan-ringan, seperti membersihkan asrama, merendam pakaian kotor, menyapu lantai dan lain sebagainya. Apa yang terjadi jika kita kecapean karena telah melakukan aktifitas yang berat seperti yang dicontohkan tadi? Pasti muncul keinginan untuk membatalkan puasanya, dan ini yang tidak kita harapkan.
ketujuh:
7. Menyibukkan diri dengan Tadarus Al-Quran, mengulang Pelajaran atau kegiatan bermanfaat lainnya
Puasa merupakan waktu dilipat gandakannya segala amal ibadah, maka isilah Ramadhan ini dengan banyak membaca Al-Quran yang pahalanya dihitung setiap huruf, setelah itu kita juga bisa menyibukkan diri dengan mengulang-ulang pelajaran yang di dapatkan di sekolah, atau bisa juga melakukan pekerjaan ringan lainnya yang bermanfaat.
Sebaliknya jika kita banyak nganggur dan banyak bengong, akhirnya melamun dan menghayal. Yang dihayalkan tentang makanan yang lezat dan minuman yang segar, akibatnya perutnya keroncongan karena memikirkan makanan.
kedelapan:
8. Memberikan semangat kepada teman yang masih belum kuat berpuasa
Merupakan cara yang jitu dan mudah untuk dilakukan, berilah semangat dan nasehat kepada teman-teman yang masih terlihat lesu, terutama kepada orang yang sudah ada niat untuk membatalkan puasanya. Tunjukkan semangat kita, agar yang melihat kita terhibur dan termotivasi untuk bisa menunaikan Ibadah puasa sampai pada akhirnya nanti. Dengan begitu, kita yang memberikan semangat akan mendapatkan kekuatan tambahan untuk bisa menamatkan puasa kita.
terakhir:
9. Yakin bisa melakukannya dengan baik
Kenapa harus yakin? Karena dengan keyakinan yang kuat kita akan bisa melakukan suatu pekerjaan walaupun itu terasa berat. Termasuk puasa, kita harus yakin bisa melaluinya. Keyakinan yang kuat akan mengantarkan kita pada kesuksesan dan tercapainya suatu harapan dan cita-cita. Sebaliknya jika ragu, apapun usaha dan harapan kita kemungkinan besar akan menemui kegagalan. Termasuk jika kita ragu apakah bisa berpuasa sampai sebulan penuh, maka itu hanya akan membuat kita lemah dan kehilangan kekuatan. Untuk itu Yakinlah, karena sesungguhnya Allah bersama dengan orang2 yang bertaqwa.
Jangan Lupa like Facebook ya
Sumber artikel : http://www.suatufakta.com/2013/07/puasa-sebentar-lagi-tips-agar-kuat.html